Jauh Lebih Berharga

Posted by erwin (marketing) on Saturday, September 17, 2011

Seorang wanita bijak yang tengah melakukan perjalanan di pegunungan menemukan sebuah batu berharga. Ia menaruh batu itu ke dalam tas. Hari berikutnya, wanita itu berjumpa dengan seorang pengelana lain yang kelaparan. Wanita bijak itu membuka tas untuk membagi makanannya.

Si pengelana yang kelaparan melihat batu berharga di dalam tas dan memintanya. Wanita bijak itu memberikan batu tersebut tanpa ragu-ragu. Si pengelana pergi dengan gembira karena keberuntungannya. Ia tahu, batu berharga itu cukup bernilai untuk memberinya rasa aman seumur hidup.

Tetapi, beberapa hari kemudian si pengelana datang lagi untuk mengembalikan batu berharga tersebut kepada wanita bijak. "Saya tahu betapa bernilai batu ini, tetapi saya mengembalikannya dengan harapan Anda bisa memberikan saya sesuatu yang jauh lebih berharga. Berikanlah apa yang Anda miliki dalam diri Anda - yang membuat Anda mampu memberikan batu ini kepada saya."
More aboutJauh Lebih Berharga

Kita Mesti Bersyukur

Posted by erwin (marketing) on Friday, September 16, 2011

Pernah dengar lagu ciptaan om ebiet.
Kita mesti bersyukur, bahwa kita masih diberi waktu ...
Kok jadi nyanyi ya?... hehehe
Sobat sobat sekalian, kita mesti bersyukur atas apa yang ada hari ini, sebab masih banyak sobat sobat kita diluar sana yang mungkin kurang beruntung dibanding kita hari ini.
Maka itu, mulai detik ini kita syukuri dan nikmati selagi masih diberi waktu kata om ebiet...
More aboutKita Mesti Bersyukur

Bob Willen: Selesaikan apa yang telah kamu mulai

Posted by erwin (marketing) on Tuesday, September 13, 2011


Lomba marathon internasional 1986 di New York diikuti ribuan pelari dari seluruh dunia. Lomba ini berjarak 42 km. mengelilingi kota New York. Jutaan orang di seluruh dunia menyaksikan acara ini melalui televisi secara langsung.

Ada satu orang peserta yang menjadi pusat perhatian di lomba tersebut, yaitu Bob Willen. Bob seorang veteran perang Vietnam. Ia kehilangan kedua kakinya karena terkena ranjau saat perang. Untuk berlari, Bob menggunakan kedua tangannya untuk melemparkan badannya kedepan.

Lomba pun dimulai. Ribuan orang mulai berlari secepat mungkin ke garis finish. Wajah mereka menunjukkan semangat yang kuat. Para penonton terus bertepuk tangan mendukung para pelari. 5 km telah berlalu. Beberapa peserta mulai kelelahan, mulai berjalan kaki. 10 km berlalu. Saat ini mulai nampak siapa yang mempersiapkan diri dengan baik, dan siapa yang hanya sekedar ikut untuk iseng-2. Beberapa yang kelelahan memutuskan untuk berhenti dan naik ke bis panitia.

Sementara hampir seluruh peserta telah berada di kilometer ke-5 hingga ke-10, Bob Willen masih berada di urutan paling belakang, baru saja menyelesaikan kilometernya yang pertama. Bob berhenti sejenak, membuka kedua sarung tangannya yang sudah koyak, menggantinya dengan yang baru, dan kemudian kembali berlari dengan melempar-lemparkan tubuhnya kedepan dengan kedua tangannya.

Ayah Bob yang berada bersama ribuan penonton lainnya tak henti-hentinya berseru “Ayo Bob! Ayo Bob ! Berlarilah terus”. Karena keterbatasan fisiknya, Bob hanya mampu berlari sejauh 10 km dalam satu hari. Di malam hari, Bob tidur di dalam sleeping bag yang telah disiapkan oleh panitia yang mengikutinya.

Empat hari telah berlalu, dan kini adalah hari kelima bagi Bob Willen. Tinggal dua kilometer lagi yang harus ditempuh. Hingga suatu saat, hanya tinggal 100 meter lagi dari garis finish, Bob jatuh terguling. Kekuatannya mulai habis. Bob perlahan-2 bangkit dan membuka kedua sarung tangannya. Nampak di sana tangan Bob sudah berdarah-darah. Dokter yang mendampinginya sejenak memeriksanya, dan mengatakan bahwa kondisi Bob sudah parah, bukan karena luka di tangannya saja, namun lebih ke arah kondisi jantung dan pernafasannya.

Sejenak Bob memejamkan mata. Dan di tengah2 gemuruh suara penonton yang mendukungnya, samar-samar Bob dapat mendengar suara ayahnya yang berteriak “Ayo Bob, bangkit ! Selesaikan apa yang telah kamu mulai. Buka matamu, dan tegakkan badanmu. Lihatlah ke depan, garis finish telah di depan mata. Cepat bangun ! Jangan menyerah! Cepat bangkit !!!”

Perlahan Bob mulai membuka matanya kembali. Garis finish sudah dekat. Semangat membara lagi di dalam dirinya, dan tanpa sarung tangan, Bob melompat- lompat ke depan. Dan satu lompatan terakhir dari Bob membuat tubuhnya melampaui garis finish. Saat itu meledaklah gemuruh dari para penonton yang berada di tempat itu. Bob bukan saja telah menyelesaikan perlombaan itu, Bob bahkan tercatat di Guiness Book of Record sebagai satu-satunya orang cacat yang berhasil menyelesaikan lari marathon.

Puluhan wartawan mendekatinya dan bertanya, Bob apa tips sukses anda?
Saya hanya orang biasa, dan saya hanya menyelesaikan apa yang telah saya mulai. saya rasa tidak ada yang gagal dalam marathon kali ini yang ada hanyalah jika anda memutuskan untuk berhenti dan tidak menyelesaikannya. Tidak perduli berapa lama anda menyelesaikannya yang terpenting tetap fokos pada garis finish.
More aboutBob Willen: Selesaikan apa yang telah kamu mulai